Jumat, 06 Juli 2018

genre School, Friendship, dan musik: Friend's Memory: alunan angin sejuk part-01 & 02


 Friend’s memory
Kenangan masa SMP: alunan tanpa henti
Alunan angin sejuk-part 1
apa yang kau bayangkan tentang masa SMP? yah, tentu kalian memiliki yang namanya pelajaran, ekskul, teman, tugas sekolah, dan banyak lagi. selain itu kalian punya kenangan indah kan. di buku ini kalian akan mendengarkan cerita dari seorang anak SMP yang bernama Brian...
siang itu Jumat-21-September-2018...
hari itu sangat sejuk, enak dipandang. disekolah itu ada aku. hai namaku Brian Evan kalian bisa memanggilku Brian. aku lagi di ruangan kelas yang hampir sepi karena semua murid sudah pulang. yah, kebetulan diriku pulang bersama temanku yang bernama Chandra dan Dian (bukan Dian Sastro ya. uubbhh.) aku melihat mereka sudah menunggu di tempat rak sepatu.
“halo, temen-temen” salamku pada mereka “kita pulang bareng yuk”
“ayo” kata Chandra “mau apalagi emangnya”
“iya, ayo” kata Dian
“iya, sebentar” aku mengambil rak sepatu dan lalu kami pulang bersama.
aku merasa kesepian biasanya tanpa teman-temanku dan lalu sejujurnya aku bisa main piano. lagu yang kubisa? mungkin 5. Ayahku seorang pianis hebat di sini. bukannya sombong, ini emang kenyataannya. Ibuku seseorang Ibu Rumah Tangga/IRT. yah, aku waktu kecil diajari oleh Ayahku soal bermain Piano. dan aku bisa sejak usiaku 7 tahun. tentu saja aku punya banyak teman. namun, yang paling BFF (Best Friend Forever maksudnya) adalah mereka berdua. bahkan, orang tuaku tetanggaan bareng mereka. aku bersekolah di SMP 4 Kotabaru.
“assalamualaikum, aku pulang”
“waalaikumsalam”

~~~
keesokan harinya.....
dikelasku, semua berjalan seperti biasanya. yah, nggak aneh juga bagiku.
saat aku istirahat, aku bertemu dengan guruku. guru ekskul musik, namanya Bu Siska.
“assalamualaikum, Bu Siska”
“waalaikumsalam, Brian. ada apa?”
“aku mau ngumpulin tugas kemaren”
“oh, ya udah. nanti kita perlihatkan dulu di ekskul ya”
“oks”
bel masuk KRIIIIIINNNNNNGGGGGG......
aku memikirkan, kalau not balok salah. mungkin aku di beri nilai jelek sama Bu Siska. aku biasanya kurang suka membaca not balok. maksudku, aku kurang bisa.
“kamu kenapa sih Brian” kata Dian “kamu sakit ya?”
“eeee, nggak kok. cuman kepikiran”
“kepikiran apa hayo” dia menatapku seperti mengancam “mikirin cewek ya”
“nggak kok rahasia. wek” ejekku
“hahahahaha, bercanda kok” kata Dian
“apaan coba” kataku mengoceh “lagian kan aku ini kan...”
“assalamualaikum anak-anak, selamat pagi” kata Pak Sandi
“waalaikumsalam Pak, selamat pagi Pak” kata murid-murid
aku menghela nafas lega, untungnya nggak bernasib naas.
“kau ini...!!!”
“apaan sih Brian. gua gak ngapa-ngapain kok”
“baiklah, anak-anak kita punya teman baru”
“hah” pada saat aku mendengarkan kata-kata tersebut, angin memberikan lantunan indah. entah kenapa ini terjadi?. anak baru itu masuk kedalam kelas.
“assalamualaikum semuanya. namaku Dita Salsabila dan aku tinggal di perum Pondok Mekar Indah. salam kenal”
aku merasa kalau namanya pernah kudengar di suatu tempat. tapi dimana ya?. mungkin aku Dèja vù. ahhh, tidak itu hanya mitos. mungkin kebetulan pernah kedengeran ajah.
                                                         ~~~
di waktu ekskul...
di kelas 3 digedung Ekskul, aku menduduki bangku yang ada piano didepannya. disini ekskul musik, disini terdapat alat musik piano, Biola, Suling, dan juga pianika. disini, diperbolehkan untuk acara selain orkestra seperti lomba piano, Biola, DLL...
bel berbunyi 3 kali dan Bu Siska masuk ke kelas.....
“assalamualaikum anak-anak”
“waalaikumsalam Bu”
“hari ini ada murid baru yang masuk ke ekskul ini. dan akan menjadi pendamping kamu Brian”
siapa ya?. aku merasa angin menerpa diriku dengan suara merdu lagi. apa itu dia.
“namanya Salsa”
dia!!! aku gak nyangka kalo dia itu pendampingku. dan dia memilih Biola. kurasa agak pantas jika piano dipadukan dengan Biola. semua menyorakiku dengan kata-kata cemburu ‘cieee pacaran nieh’ hah, kejam banget mereka.
“silahkan, tunjukkan kemampuanmu”
“ya, Bu”
lagu Turkish March- Wolfgang Amadeus Mozart.
ini lagu dengan nada yang cepat. ini agak sulit bagi pemain Biola, tapi dia bisa! sempurna!. aku nggak nyangka dia secepat diriku, aku jadi minder karenanya. tapi dia nadanya agak pelan di saat-saat terakhir, mukanya agak lesu. kenapa?
~~~
bel pulang berbunyi KRIIIINNNNGGGG.
Bu Siska menyuruh aku dan Salsa untuk jangan pulang dulu. mungkin karena agar suara pianoku dan dia bisa dipadukan dengan baik.
lagu Turkish March- Wolfgang Amadeus Mozart.
wah, ternyata pas sih. agak diperbaiki lagi. wah, bisa jadi duet hebat nih!
namun, aku merasa ada yang melihat diriku dan Salsa.
“wah, Brian dan Salsa pacaran. wah, kita bilangin yuk” kata Dian
“hei, kalian ngapain disini. kita cuman latihan. ya nggak?”
“ya”
“ubbbhhhh. udahlah kita bercanda kok, lagian ini kan tugas sekolah”
menyebalkan, aku ditipu lagi. yah, tapi akhirnya semua hampir selesai.
~~~
aku pulang berempat Sore itu. aku, Dian, Chandra, dan Salsa. kami seperti reuni keluarga. aku dan Salsa kakak beradik, Dian dan Chandra suami istri. kami berbincang-bincang. aku lalu menatap langit. menempelkan seluruh pikiran ke langit, dan bergumam
“mungkin, semua keanehan ini adalah perasaanku saja. dan mungkin akan menjadi sebuah kisah indah. di waktu SMP”
angin sejuk berhembus dengan indahnya
~~~
Alunan angin sejuk-part 2
keesokan harinya...
dunia sepertinya bersinar dengan terangnya. memulai hari baru yang indah. setelah aku sarapan aku langsung berangkat menuju ke sekolah. sekalian aku menunggu temanku.
lalu aku bertemu Salsa
aku berbincang sebentar dengannya. dan aku tahu kalau Ibunya memiliki penyakit anemia yang parah. Ibunya sudah operasi 2 kali. dan sekarang kambuh lagi. namun Salsa berusaha memenangkan lomba Biola. dia mendapatkan kemenangan terus-menerus. dan berharap agar Ibunya mendapatkan kesembuhan... aku sangat berduka cita mendengarkannya.
lalu aku bertemu dengan Dian dan Chandra, kami mulai berangkat ke sekolah.
di sekolah...
di ruangan seni, aku selalu berlatih piano, berlatih dan berlatih. aku sebenarnya tidak diperbolehkan latihan piano diluar pelajaran SBK atau ekskul. namun, berkat Bu Siska, akhirnya aku diperbolehkan bermain piano. tapi, aku merasa gak enakan mendapatkan hal-hal seperti itu, seperti makan kue manis kebanyakan, itu membuatmu agak enek.
seperti biasa aku diintip oleh Dian dan Chandra. entah mengapa mereka sering mengintipku seperti itu. hah, aneh. tapi ada yang berbeda dari itu. Salsa juga IKUTAN, jadi minder kan aku. jahat banget mengajak si Salsa ngeliatin aku seperti itu.
namun, aku merasa kalau Salsa itu memiliki perasaan tenang, gak kayak si Dian ama Chandra. Salsa tenang sekali melihatku, seperti angin musim semi... sejuk dan benar-benar enak di rasakan. hah, udahlah gak usah lebay-lebay ah, aku ama Salsa belum halal, dikiranya pacaran, dosa tau!!!
~~~
aku pun menjalani istirahat kedua. aku benar-benar heran apa yang mereka lihat itu, di mading! aku harus lihat itu.
setelah aku lihat-lihat lagi itu ternyata AUDISI BERMAIN PIANO!!! aku terjatuh, kaget dan semuanya melihatku, tersenyum mengancam. aku kan pemalu kalau di depan banyak orang. yang lebih buruk lagi aku harus sama si Salsa. hah, hidupku kejam. yah, aku nggak yakin kalau aku harus mengikuti audisi itu, dan aku perlu izin ke Ibuku hmmm.
bel berbunyi kembali, saat itu ekskul. aku pun disuruh jangan pulang dulu ama Bu Siska. Dian dan Chandra sudah menunggu di depan kelas Ekskul kami, aku dan Salsa emang seperti duet yang paling top kata Dian dan Chandra. kataku juga aku belum halal, si Salsa juga ngomong kayak gini ‘kita tuh belom muhrim, ntar, nikah dulu’ waduh, jangan-jangan si Salsa kepengen ama aku AAAAAAARRRRRRRGGGGGHHHHHH, gak usah dipikirin dulu ah.
“Eh, Brian kita audisinya kapan sih?”
“kalo gak salah tanggal 26 September. tenang, 5 hari lagi”
lalu  Salsa marah-marah “heh, 5 hari lagi apaan, kita tuh dalam kondisi yang harus di selaraskan tau”
lah, di selaraskan, maksudmu. mungkin, dibenerin yah.
“ya iya maaf deh, lagian juga aku kan udah bisa”
“sombong banget sih”
aku pun ribut bareng ama Salsa. yah, aku yang sombongnya kelewatan yah, hihihihihi.
lagu Fur Elise-Ludwig Van Beethoven
di atas langit masih ada langit kata pepatah. aku ternyata masih sama bisanya ama Salsa, emang iya, aku yang sombongnya kelewatan.
keseharianku mulai berbeda sejak ketemu Salsa. tentunya Dian dan Chandra tidak aku lupakan juga.
~~~